Catatan dari Banjarmasin. Saudaraku, lama saya tidak posting tulisan. Padahal masih banyak yang ingin saya tampilkan. Namun kiranya, ini ada secangkir renungan yang saya kirim saat masih Banjarmasin. Selamat menikmatinya.
Seseorang pernah ditanya oleh bapaknya, “Nak, apa memang benar kerjamu kayak begitu ?”
Ya, itu pertanyaan serius yang terlontar dari mulut seorang ayah yang rasanya tak percaya dengan model dan cara kerja anaknya sekarang. Pastinya sebagai seorang ayah yang perhatian, tahu betul sifat dan kebiasaan anaknya. Apalagi dengan bekal agama yang diperoleh dari lamanya di pesantren. Rasanya sang Anak akan siap menghadapi tantangan dan godaan hidup.
Memang itulah yang menjadi harapan sang ayah. Namun, secara halus pula Sang Ayah seolah protes dengan pekerjaan anaknya, yang kini juga masih menjadi guru di sebuah pesantren sudah lebih 8 tahun.
Ada apa gerangan ?
Bukan karena anaknya menjadi guru di pesantren dengan gaji yang pas-pasan lantas sang ayah protes. Bukan juga karena lamanya jenjang karir. Lantas ? itu lantaran sang anak dengan jujur menceritakan perihal kesehariannya selama menjadi bendahara di satuan kerjanya.
***
“..trus mau bagaimana lagi , Abah?” ujar sang anak
Seolah Sang Anak tak punya pilihan lain. Sejak beberapa tahun ini, setiap pulang ke rumah pikirannya masih sibuk dengan urusan kerjanya. Makin larut malam, makin khawatir dengan apa yang harus dia kerjakan besok..toko mana lagi yang akan bisa dia mintai kuitansi kosong ? pos dana yang mana lagi yang bisa dialihkan ? bagaimana menyiapkan sejumlah argument jika ada pemeriksaan nanti ? kalo atasan minta keperluannya dicukupi sedangkan itu tidak termasuk dalam rencana anggaran lantas bagaimana..? dan seterusnya..seterusnya..
Pernah suatu hari saat printer di tempat kerja rusak. solusi satu-satunya adalah mengganti dengan yang baru. Harus Beli ? iya dong, masak minta ! Lantas pakai uang mana ? mulailah akalnya bermain. Uangnya dia belikan printer, namun dia laporkan dengan membeli 2 buah cartridge dan sejumlah rim kertas. Itu kan Manipulasi ? entah apa kata yang tepat untuk itu.. namun, Pak Haji, teman seniornya sempat bilang, “Sabar mas, asal bukan untuk keperluan pribadi saja, insya allah tidak apa-apa…”
Yaah. Itu hanya menjadi kompress sebentar, namun tidak menyelesaikan masalah. Parahnya lagi, kalo banyak mata anggaran yang disebutkan dalam perencanaan tidak sesuai dengan keperluan. Bingung campur takut, kalo-kalo dia nanti salah.
Barusan saja dia konsultasi dengan salah satu bendahara di sebuah instansi. Pasalnya di kantornya butuh banyak kursi sebagai pengganti stok yang memang rusak parah. Maklum itu sudah stok jadul alias jaman dulu. Alhasil, dia pun dapat “ilmu” untuk mengalihkan mata anggaran A sehingga bisa menutupi keperluan kantornya.
“Abah, toh mereka juga yang mengajarinya.. saya kan awalnya tidak tahu masalah gitu-gituan. “kata sang anak yang membuat ayahnya makin heran.
” Apa ya itu yang benar..?” tanya sang ayah dengan polos.
” nggak lah , Bah!” jelas anaknya dengan jujur. “Tapi itu bukan rahasia lagi di dunia keuangan ” tambah Si Anak.
***
Tak bisa dipungkiri. Saat dia harus melaporkan penggunaan uang sesuai batasan aturan yang ada namun tidak sesuai dengan kenyataan, maka dia harus memanipulasi data laporan. Asal disertai dengan kuitansi lengkap dengan cap stempelnya sebagai buktinya. Tak heran, jika dia pernah tahu ada senior “seprofesinya” dulu saat masih jadi bendahara, sempat menjadi kolektor stempel toko. Jangan berpikir bahwa itu stempel asli lho ! Tak tanggung tanggung, satu tas koper ! Itu demi lancarnya urusan, selamat dari pemeriksaan dan atasan juga aman and happy
” Lah awakmu trus dapat apa ?” tanya Ayahnya seolah menyelidiki..
” Terus terang Abah, Saya nggak berani ambil yang bukan jadi hak Saya..Paling banter kalo ada diskon dari toko saat beli ATK. Itu cukup untuk transport saja. Memang, anggaran transport itu tidak ada ..!” jelasnya sambil menundukkan pandangan matanya.
” Koyo ngono saja, sudah pusing dan khawatir terus. Apalagi kalo sengaja ambil uangnya !”
***
Itulah kenyataan hidupnya sekarang. Barangkali teman dan tetangganya bangga saat kenal sosok dirinya adalah seorang yang baik, terdidik , bahkan pengajar di sebuah pesantren pula. Namun, dibalik itu dalam dirinya terjadi pergolakan hidup yang belum tahu kapan ada perubahan. MEski banyak yang berargument bahwa boleh saja dilakukan manipulasi asal untuk kepentingan kantor, dan bukan kepentingan pribadi. Namun, baginya motif apapun tetap saja itu adalah bentuk kebohongan nyata. Bukankah Allah Maha Tahu ? Meski dia bisa “dipertanggungjawabkan”. disisi manusia .Parahnya adalah dia justru menjadi ahli begitu karena dibina dan diharuskan melakukannya melalui berbagai diklat dan arahan dari teman sejawat atau seniornya.
Dia sadar, bahwa ada yang salah dalam sistem pengelolaan negara. Para pengelola negara pun semestinya tahu masalah ini. Bukankah banyak orang pinternya ? bukankah banyak orang sholehnya ? Namun dia merasa, kok seolah tidak ada yang merubah ? Apakah ini zaman yang memang harus demikian ? Seolah batinnya membenarkan sindiran seorang kenalan baiknya, “Kang, selama jadi PNS susah jujurnya meski dia itu orangnya sholeh. Karena itu memang dari sistemnya..!”.
***
“Lha trus nanti piye le.. ? ” ungkap sang ayah penasaran
“Emboh pak, doakan semoga aja bisa selamat ” ujarnya sambil menerawang kosong. Dia pun bingung. Dirinya makin sadar, saat sistemnya rusak, maka begitu banyak orang yang baik pun bisa terseret rusak. Itu dia alami sendiri dan kini tak bisa menyangkal lagi.
“Apakah rizkiku masih halal dan berkah ? Apakah aku kini masih bisa dianggap orang baik ?” tanya dirinya dalam hati.
” wallahu a’lam, astagfirullah..” Bagaimana dengan Anda ?
Salam berkah dari Bumi Lambung Mangkurat Banjarmasin,
26 Maret 2009
Yusuf Arie
NB.
arti: awakmu (jawa) : dirimu;
koyo ngono (jawa): seperti itu,
le-singkatan tole (jawa) : Panggilan umum untuk anak laki-laki;
Emboh: tidak tahu































Ha…ha..ha…
tibaE aku sih luweh bejo… ga ngurusi ngonokan
PNS…PNs…nasibmu kini
but dont worry…dimana ada kemauan disitu ada jalan
endang pindah bagian ae mas